Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ndongeng dewe

Malas

Saya tahu malas itu berbahaya mungkin melebihi bahaya merokok, tapi karena tidak banyak peringatan tentang bahaya malas itu jadi saya masih tetap menjadi pemalas aktif, dan bukan cuma aktif tapi juga kreatif, karena seperti kebanyakan pemalas lain saya selalu punya alasan untuk menunda pekerjaan bahkan untuk tidak melakukannya karena menganggap hal itu tidak penting, nah yang punya alasan menunda atau bahkan tidak melakukan pekerjaan yang semestinya dikerjakan hanyalah para pemalas aktif nan kreatif, hebatkan. Kadang saya punya pekerjaan yang menumpuk dengan deadline mepet, meski dengan susah payah dan hasil apa adanya saya berhasil menyelesaikan pekerjaan itu, namun jika saja deadlinenya tidak mepet maka kemungkinan besar saya akan menunda menyelesaikan pekerjaan itu padahal jika dikerjakan dengan waktu yang cukup longgar pekerjaan itu bisa selesai dengan hasil yang lebih baik. Terus terang sampai sekarang saya belum bisa merubah kebiasaan buruk ini, ketika orang lain jog...

Bosen nonton berita

Belakangan ini saya jadi agak bosen nonton berita, sebabnya adalah dua stasiun televisi swasta yang telah lama mendeklarasikan dirinya sebagai stasiun berita dengan tanpa malu-malu pada perhelatan pilpres kali ini menjadi media kampanye masing-masing calon, akibatnya berita yang tersaji dikedua media itu tidak berimbang dan bahkan cenderung lebay dalam membela calonnya dan menjatuhkan lawannya. Jika ada masalah sedikit dikubu Prabowo-Hatta pihak Metro TV akan membesar-besarkannya sebaliknya jika ada masalah sedikit dikubu Jokowi-JK giliran TV One yang membesar-besarkannya, jika ada dukungan sedikit dikubu Prabowo-Hatta maka TV One akan menyiarkannya menjadi berita besar begitu juga jika ada dukungan sedikit dikubu Jokowi-JK maka Metro TV yang akan menjadikannya berita besar. Idealisme jurnalistik telah hilang digantikan pragmatisme politik, menyebalkan. Jurnalisme yang harusnya menjadi pilar demokrasi malah menjadi alat propaganda bagi para calon presiden, saya jadi ingat s...

Muhasabah Tahun Baru

Hari berganti tahun berjalan, 2013 telah berlalu, jejak-jejak yang bisa tersapu angin atau bisa juga diabadikan menjadi kenangan yang selalu terkenang.  Peribahasa lama mengatakan waktu adalah pedang dan aku merasa tidak begitu pandai memainkan pedang, berbagai kesempatan kulewatkan, banyak waktu luang terbuang, kata “nanti” menjadi candu yang memabukkan untuk terus menunda-nunda pekerjaan, seluruh tubuhku penuh luka, terluka oleh pedang waktu yang tak pandai kumainkan. Harusnya banyak hal yang bisa kuraih ditahun 2013 andai saja mau sedikit berkeringat, mau mengkerutkan kening untuk berpikir lebih keras, juga mau berjalan lebih jauh. Tapi tak   ada yang perlu disesali, merubah keadaan tak bisa hanya dengan penyesalan, harus dengan perbuatan. Kini saatnya menatap masa depan, 2014 adalah lembaran baru, harus ada kisah-kisah baru yang lebih segar, harus bisa merancang kembali cita-cita lama yang tertunda, tangga hidup harus lebih tinggi dinaiki. SEMANGAT ! ...

Garis Pertemuan Laut dan Langit

Pernahkah kau lihat garis pertemuan laut dan langit, jika belum maka kepantailah maka kau akan lihat jelas bahwa sebenarnya laut menyatu dengan langit, itulah juga mengapa kita lihat ada bintang dilangit pun juga kita lihat ada bintang dilaut, itu karena laut dan langit memang menyatu. Fakta itu telah begitu lama ditutupi oleh para saintis, yang mengatakan bahwa bumi ini bulat dan bagian dari tata surya yang begitu luas, dan langit biru itu hanya batas dari pandangan kita, bintang yang berkerlap-kerlip itu sebenarnya adalah asteroid, planet-planet, satelit-satelit, dan istilah-istilah lain yang mereka gunakan untuk menutupi fakta bahwa laut dan langit menyatu. Jika kau belum juga yakin akan kata-kataku cobalah tanyakan pada para pelaut purba yang belum mengenal sains sehingga mereka masih jernih dalam melihat laut, mereka akan menceritakan padamu bagaimana laut dan langit menyatu dalam satu pertemuan yang ajaib. Air dan ruang hampa bertemu dan saling bertukar kekayaan yang dik...

Jodoh

Jodoh itu bukan tentang perhitungan untung rugi, tidak ada rumus matematika yang cukup canggih untuk memecahkan permasalan jodoh, semuanya murni masalah hati, kedatangannya mirip intuisi bukan semacam pengetahuan yang dipelajari. Jadi kadang kalau memang sudah jodoh tidak perlu alasan apapun, begitupun sebaliknya kalau belum jodoh juga tidak perlu ada alasan apapun, sebab hanya paradigma positivistik yang butuh alasan rasional sementara paradigma hati hanya perlu satunya perasaan. Mungkin karena itu pula Qays dan Laila rela menjadi gila karena mereka tidak bisa bersama, Romeo dan Juliet lebih memilih mati bersama dari pada hidup namun terpisah, Ibuku lebih memilih menjanda karena percaya suatu hari nanti dialam lain akan kembali bersama Ayah, apa yang meraka lakukan terlihat ironis bagi yang memandangnya dari hitung-hitungan matematika namun tidak bagi yang memahami kekuatan cinta dan hati.  

Hotpant

Akhir-akhir ini banyak sekali cewek yang hobi memakai hotpant, yang saya heran kenapa mereka kok tidak kedinginan ketika memakainya pada malam hari yang dingin atau tidak takut kepanasan dan kulitnya menjadi hitam legam jika memakainya ditengah terik matahari, kadang-kadang agar dibilang keren memang butuh pengorbanan, mungkin itulah yang membuat cewek-cewek hotpant itu mau kedinginan dan kepanasan, yang penting mereka tampak modis, seksi, sekaligus keren. Tentang definisi modis dan keren sendiri kalau menurut saya relatif,  tergantung musim, kalau pas musimnya celana pensil maka yang modis dan keren ya celana pensil, kalau pas musimnya rambut rebonding ya yang modis dan keren jelas rambut lurus hasil rebondingan (kalau lurus alami itu mah ndeso) nah sekarang lagi musimnya hotpant (apalagi ditambah demam girls band) jadi yang modis dan keren ya hotpant. Jadi penentu sesuatu itu dianggap keren atau ndeso bukan kita sendiri, tapi yang menentukan adalah “musim”. Nah ‘musim”...

Narsis

Gambar
Ada yang bilang kalo ada orang yang suka pasang foto di facebook, twiter, ataupun blog maka orang itu dapat dikategorikan sebagai orang fasis, eh salah bukan fasis tapi rasis, salah lagi… bukan fasis bukan rasis tapi narsis, iya bener… narsis. Kalo pendapat ini benar maka orang paling narsis sedunia adalah orang-orang yang lagi nyalon jadi DPR, atau jadi bupati, gubernur, sampai nyalon presiden sebab mereka bukan hanya pasang tampang di facebook atau twiter tapi bahkan pasang foto besar-besar disepanjang jalan, pasang stiker bergambar wajahnya yang lagi jaim dipohon, tiang listrik bahkan sampai pintu kamar mandi, “opo ora narsise nemen ???” Tapi kalo saya pribadi tidak setuju pendapat ini. Kalo denger kata fasis kita mesti ingat seorang Mussolini sang dictator Italia sebab dialah God Father Fasisme, kalo dengar kata rasis mungkin kita akan teringat Hitler seorang rasis paling berkuasa sebelum perang dunia II yang merasa ras Arya milik nenek moyangnyalah yang paling heba...