Postingan

Menampilkan postingan dengan label KELUARGA

Kenangan yang tergenang

Sejak usia anak-anak dulu sampai sekarang sudah punya anak, saya selalu merasa bahwa separuh jiwa raga saya adalah orang Pabean, meski saya lahir dan besar di Simbangkulon namun sebagian kenangan indah masa kecil saya tercipta di Pabean. Dulu Pabean adalah sebuah desa yang indah, jika kita ingin memasuki desa ini maka hamparan sawah yang luas akan menyambut kita, apalagi kalau pas masa panen keindahannya akan bertambah dengan padi-padi yang menguning, kemudian yang juga khas dari desa ini waktu saya   kecil dulu adalah aroma terasi yang begitu menyengat dibeberapa tempat, kebun-kebun yang lebat juga masih banyak dengan beraneka macam pepohonan yang berbuah segar. Tapi itu dulu. Sekarang desa yang indah ini sudah tergenang rob, air laut yang tiba-tiba naik kedaratan lalu menggenangi sawah, kebun, bahkan rumah-rumah dan jalanan. Kita tidak akan bisa lagi melihat hamparan sawah didesa ini, pohon buah jambu air yang dulu banyak juga perlahan-lahan mati, pengrajin ter...

Yatim

Kita selalu punya pilihan untuk menyikapi sebuah tragedi, menghadapinya dengan berani atau menyerah terhadap trauma yang biasanya menyertai sebuah tragedi, dan keluarga kecil itu memilih pilihan yang pertama. Tiga orang bocah kakak beradik, yang sulung belum lulus SD, yang nomer dua baru kelas 4 SD sementara si bungsu bahkan belum masuk TK. Dipagi yang cerah itu mereka mendapati kenyataan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, sebuah kabar   yang bahkan membuat sang ibu jatuh pingsan, sanak saudara berurai air mata, kabar itu adalah bahwa sang ayah yang baru berusia 37 tahun meninggal secara mendadak. Dalam waktu singkat bocah-bocah itu menjadi anak yatim. Setelah pagi yang memilukan itu sang ibu selama beberapa hari terus larut dalam kesedihan, namun kemudian perempuan muda yang belum genap berusia 35 tahun itu memilih untuk tegar setelah sadar bahwa ada tiga bocah yatim yang menjadi tanggungannya. Si Sulung yang pendiam dan pemalu tanpa dia sadari sepenu...

Keajaiban

Ada seorang bocah yang bergerak-gerak menggemaskan didalam perut istriku, sudah delapan bulan lebih dia berada disana, sebuah tempat transit antara laukhul makhfudz dengan dunia fana, begitu dalam pandangan aqidah, sebuah tempat bersemainya bibit dari sperma yang tumbuh menjadi janin setelah bertemu dengan ovum, begitu pandangan biologi.    Itulah keajaiban penciptaan manusia, pandangan aqidah mewakili jiwa/ruh janin, sementara pandangan biologi mewakili fisik/raga janin, yang keduanya (jiwa dan raga itu) akan terus bertumbuh dan menjadi satu kesatuan dalam diri makhluq yang bernama manusia. Ini adalah untuk pertama kalinya istri saya hamil, jika melahirkan nanti pada bulan februari maka tepat satu tahun pernikahan kami sang buah hati lahir, ada perasaan bahagia bercampur haru melihat kandungan istri saya yang semakin membesar, menghitung-hitung tanggal persalinan, menebak-nebak apakah bocah yang berada dalam kandungan itu laki-laki ataukah perempuan, mencoba me...

Selamat dan berbahagialah

Tulisan ini pada awalnya saya posting dicatatan facebook pada 25 Maret 2011, waktu itu kebetulan banyak teman-teman dan sahabat yang menikah, kini 4 tahun setelah tulisan itu saya posting saya harus merenungkannya kembali untuk saya sendiri sekaligus kalau memang pantas memberi selamat untuk diri sendiri. Selamat kepada sahabat yang telah menemukan tambatan hatinya, pencarian itu akhirnya menemukan titik temu pada satu waktu yang kita sebenarnya tak tahu, namun takdir menemukan dirimu dan dirinya dalam satu pertemuan yang sederhana sekaligus ajaib, dua hati saling tarik bagai dua kutub magnet. Pertemuan itu telah tertulis sebelum segalanya ada, di Laukhul Makhfudz tempat dimana takdir semesta tertulis. Lalu langkah-langkahmu menemukannya hanyalah perwujudan dari takdir itu, namun segala usahamu itu sekaligus adalah do’a dimana takdir terbaiklah yang menyertaimu. Maka bersyukurlah sebab yang terbaiklah pendampingmu kini sekaligus nanti. Selamat kepada sahabat yang akan ...

Suami memalukan

Meskipun saya bukan seorang feminis apalagi feminin, namun terus terang saya tidak suka dengan suami yang suka marah-marah seenaknya dengan sang istri, apalagi jika istrinya itu lagi hamil atau lagi bersama anak-anaknya yang masih kecil, marah-marah dihadapan seorang ibu yang lagi mengasuh anak-anaknya menurut saya adalah tindakan yang keji dan munkar apalagi jika yang melakukan itu adalah sang suami sendiri. Tadi pagi ketika sedang melintas didesa sebelah, saya melihat fenomena memalukan itu, seorang suami dengan seenaknya marah-marah sama istrinya hanya gara-gara anaknya rewel padahal sang istri sedang menggandeng dua anaknya yang  masih kecil, ketika istrinya yang cengar cengir bilang “ ya mbok ditulungi” suaminya malah tambah marah “aaarrrghhh”. Dalam budaya patriarkhi peran laki-laki memang cenderung lebih besar termasuk dalam masalah marah memarahi, namun jika cuman besar mulut sementara kesejahteraan keluarga tidak terjamin maka itu sangat...