Postingan

Menampilkan postingan dengan label KATA-KATA

Yang terlupakan

Saya tak menyangka ternyata sudah sangat lama sekali saya tidak membuka blog ini, tanggal terakhir saya posting 16 Juli 2016 yang artinya lebih dari satu tahun yang lalu, tahun 2017 ini keinginan untuk menulis masih ada namun banyak hal yang menyita waktu dan perhatian saya sehingga menulis blog menjadi terabaikan. Padahal ada banyak hal yang harusnya dapat saya tulis, namun lagi-lagi keengganan yang sebenarnya adalah jenis lain kemalasan membuat kesibukan saya selama ini seakan-akan benar-benar menjadikan seperti tidak ada waktu untuk menulis. Namun ketika membuka blog ini lagi, mengingatkan saya bahwa waktu berjalan sedemikian cepat tapi lembut sehingga tanpa terasa ratusan hari telah terlalui tanpa bisa kita ulangi lagi, yang saya takutkan jangan-jangan bukan hanya postingan diblog yang tidak terasa telah setahun lebih saya tinggalkan, jangan-jangan ada banyak hal-hal lebih penting yang saya tinggalkan selama setahun ini.  

Ingatkah engkau

Ingatkah engkau siapa yang mengajarimu mengeja kata-kata, mengenali angka-angka, merangkai huruf-huruf, mengajakmu membaca ketika engkau berbicara saja masih terbata-bata, menuntun tangan mungilmu untuk menuliskan kata-kata sederhana atau menggambar gambar-gambar yang engkau suka. Ingatkah engkau siapa mereka ? Ingatkah engkau siapa yang menggandeng tanganmu untuk masuk kelas pertama kalinya sementara engkau masih malu-malu dan berpegang erat pada tangan ibumu, menghiburmu ketika engkau menangis dikelas karena bertengkar dengan temanmu, membersihkanmu ketika engkau kebelet pipis disekolah. Ingatkah engkau siapa mereka ? Ingatkah engkau siapa yang mengajarimu membaca Al Qur’an, menunjukkanmu cara berwudlu, memperagakan gerakan-gerakan shalat, mengajakmu berpuasa namun juga memaklumi ketika pada siang hari engkau tak sanggup menyelesaikan puasamu. Ingatkah engkau siapa mereka ? Ingatkah engkau siapa yang mengajakmu untuk bermimpi setinggi langit, memberimu mo...

Harapan

Konon ada yang berkata, bahwa satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan manusia dari tragedi demi tragedi adalah HARAPAN, dengan harapan itu manusia yang ditimpa musibah tidak akan berfikir untuk bunuh diri atau mencoba untuk minum minuman keras satu drum, dengan harapan pula fisik manusia yang ringkih akan tetap sehat dan pikirannya yang lemah akan tetap waras. Dalam mitologi Yunani diceritakan, ketika Epimethius (seorang Titan atau semacam Dewa) menikah dengan Pandora (manusia biasa) Zeus (Dewa terbesar) kemudian menghadiahkan sebuah kotak yang sangat indah kepada Pandora, namun Prometheus (saudara Epimethius) memperingatkan kepada Pandora agar tidak membuka kotak itu. Suatu hari dipancing rasa penasaran yang besar akhirnya Pandora membuka kotak hadiah dari Zeus itu, lalu begitu kotak itu terbuka aroma teror langsung menyeruak memenuhi udara, sesuatu yang terdengar mengerikan keluar dengan cepat dari kotak itu, ketika Pandora menutup kembali kotak itu segalanya sudah terlamba...

Selamat dan berbahagialah

Tulisan ini pada awalnya saya posting dicatatan facebook pada 25 Maret 2011, waktu itu kebetulan banyak teman-teman dan sahabat yang menikah, kini 4 tahun setelah tulisan itu saya posting saya harus merenungkannya kembali untuk saya sendiri sekaligus kalau memang pantas memberi selamat untuk diri sendiri. Selamat kepada sahabat yang telah menemukan tambatan hatinya, pencarian itu akhirnya menemukan titik temu pada satu waktu yang kita sebenarnya tak tahu, namun takdir menemukan dirimu dan dirinya dalam satu pertemuan yang sederhana sekaligus ajaib, dua hati saling tarik bagai dua kutub magnet. Pertemuan itu telah tertulis sebelum segalanya ada, di Laukhul Makhfudz tempat dimana takdir semesta tertulis. Lalu langkah-langkahmu menemukannya hanyalah perwujudan dari takdir itu, namun segala usahamu itu sekaligus adalah do’a dimana takdir terbaiklah yang menyertaimu. Maka bersyukurlah sebab yang terbaiklah pendampingmu kini sekaligus nanti. Selamat kepada sahabat yang akan ...

Muhasabah Tahun Baru

Hari berganti tahun berjalan, 2013 telah berlalu, jejak-jejak yang bisa tersapu angin atau bisa juga diabadikan menjadi kenangan yang selalu terkenang.  Peribahasa lama mengatakan waktu adalah pedang dan aku merasa tidak begitu pandai memainkan pedang, berbagai kesempatan kulewatkan, banyak waktu luang terbuang, kata “nanti” menjadi candu yang memabukkan untuk terus menunda-nunda pekerjaan, seluruh tubuhku penuh luka, terluka oleh pedang waktu yang tak pandai kumainkan. Harusnya banyak hal yang bisa kuraih ditahun 2013 andai saja mau sedikit berkeringat, mau mengkerutkan kening untuk berpikir lebih keras, juga mau berjalan lebih jauh. Tapi tak   ada yang perlu disesali, merubah keadaan tak bisa hanya dengan penyesalan, harus dengan perbuatan. Kini saatnya menatap masa depan, 2014 adalah lembaran baru, harus ada kisah-kisah baru yang lebih segar, harus bisa merancang kembali cita-cita lama yang tertunda, tangga hidup harus lebih tinggi dinaiki. SEMANGAT ! ...

Akhir Tahun

Tutup buku lama dengan Alhamdulillah Buka buku baru dengan Bismillah

Garis Pertemuan Laut dan Langit

Pernahkah kau lihat garis pertemuan laut dan langit, jika belum maka kepantailah maka kau akan lihat jelas bahwa sebenarnya laut menyatu dengan langit, itulah juga mengapa kita lihat ada bintang dilangit pun juga kita lihat ada bintang dilaut, itu karena laut dan langit memang menyatu. Fakta itu telah begitu lama ditutupi oleh para saintis, yang mengatakan bahwa bumi ini bulat dan bagian dari tata surya yang begitu luas, dan langit biru itu hanya batas dari pandangan kita, bintang yang berkerlap-kerlip itu sebenarnya adalah asteroid, planet-planet, satelit-satelit, dan istilah-istilah lain yang mereka gunakan untuk menutupi fakta bahwa laut dan langit menyatu. Jika kau belum juga yakin akan kata-kataku cobalah tanyakan pada para pelaut purba yang belum mengenal sains sehingga mereka masih jernih dalam melihat laut, mereka akan menceritakan padamu bagaimana laut dan langit menyatu dalam satu pertemuan yang ajaib. Air dan ruang hampa bertemu dan saling bertukar kekayaan yang dik...

Maaf

Maaf karena aku hanya bisa menjumpaimu lewat kata, mestinya kita bisa bertatap muka barang sejenak membuang sedikit keangkuhan dan saling mengucap maaf lewat lisan bukan lewat tulisan. Maaf karena aku hanya bisa mengucapkan maaf lewat tulisan bukan lewat lisan, menjadikan sesuatu yang harusnya personal dan bahkan sakral menjadi terkesan urakan bahkan asal-asalan, entah apakah ini dapat disebut sebagai silaturahim, kalaupun mungkin anggap saja ini silaturahim namun aku kok sepertinya merasa ada yang kurang, aku tak bisa melihat senyummu. Maaf karena aku tak bisa menjumpai kalian satu persatu, bukan karena aku sibuk, namun ini karena dominasi ego “bukankah harusnya kalian yang datang ketempatku !” begitulah teriakan egoku dengan angkuh, dalam hari yang fitri inipun ternyata aku belum mampu menyingkirkan keakuanku. Maaf karena aku tak pernah mengucapkan maaf pada hari-hari biasa, pada hari-hari dimana caci maki dan iri hati menjadi seperti tradisi yang tak disadari,...